Sejarah dan Ragam Bentuk Chandelier

Mar 1, 2013 – Rumah.com

RumahCom – Chandelier atau lampu gantung ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang. Lampu jenis ini telah melewati proses evolusi dari semula berbahan dasar kayu hingga kristal, seperti yang sering kita jumpai saat ini.

Chandelier berasal dari kata ‘candelabrum’ yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin ‘candela’ yang berarti ‘lilin’. Memang, sebelum listrik ditemukan, lilin banyak dipilih sebagai penerang ruangan.

Awalnya, chandelier hanya digunakan para bangsawan di abad pertengahan. Bentuknya masih sederhana, hanya dua bilah kayu yang disilangkan dan lilin-lilin ditempatkan di sudut-sudutnya. Kayu berlilin itu lalu digantung dengan menggunakan tali atau rantai.

Penanda Status Sosial
Baru pada abad ke-15, chandelier semakin populer dan digunakan di rumah-rumah para borjuis dan pedagang. Fungsinya selain sebagai penerang ruangan, tetapi juga sebagai penanda status si empunya rumah. Bentuknya pun mulai bervariasi, misalnya berbentuk mahkota.

Chandelier berbahan kristal menjadi tren dan banyak disukai kaum bangsawan Eropa di abad ke-17. Hal ini merupakan dampak dari produksi gelas kristal yang menjamur di kala itu, terlebih di Inggris. Penemuan ini tentu saja mendapat sambutan dan antusiasme yang sangat besar dari masyarakat zaman itu, dimana sebuah kaca biasa yang diasah dapat merefleksikan bias cahaya yang indah.

Tentu bentuk dan desain chandelier kristal pada waktu itu masih sangat sederhana. Adapun pengembangan bentuk dan model chandelier berbahan kristal yang lebih rumit dan kompleks baru dimulai di abad ke-18 dan 19.

Selain mengalami revolusi bentuk, chandelier masa kini juga berukuran lebih besar, lebih terang, dan bentuknya pun trendy. Bahkan, tak hanya bentuk dan desainnya, warnanya pun kini beragam dan Anda bisa bereksperimen dengan chandelier melalui pemilihan warnanya.

Jika selama ini Anda hanya mengenal chandelier dengan warna gelap seperti hitam, cokelat, biru, atau abu-abu, maka kini beragam warna lain mulai diperkenalkan, seperti putih, merah, dan merah muda.

Antik Lebih Mahal
Di sisi lain, seperti kebanyakan furnitur antik yang bernilai estetis dan sejarah tinggi, chandelier antik pun kerap dibanderol dengan harga lebih tinggi daripada chandelier baru. Harga sebuah chandelier antik bahkan bisa mencapai USD1.200 atau sekitar Rp12 juta.

Anda juga bisa memilih chandelier lama yang diberi tampilan baru. Harganya di pasaran internasional berkisar USD300 sampai USD400 atau sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta. Namun, bila ingin sedikit berhemat, Anda bisa membeli sebuah chandelier bekas dan mengecat serta mendekorasi ulang agar terlihat baru. (*)

Im Suryani (Dari Berbagai Sumber)
imsuryani@rumah.com

Foto: Wikipedia/Anto Erawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s